Jumat, 03 Oktober 2025

Hosea 11:5: Kembali atau Tidak Kembali ke Mesir?







Bukankah mereka harus kembali ke tanah Mesir?
Biarlah Asyur menjadi raja mereka, sebab mereka menolak untuk bertobat. (TB 2)

Mereka harus kembali ke tanah Mesir,
dan Asyur akan menjadi raja mereka, sebab mereka menolak untuk bertobat.  (TB)

They shall return to the land of Egypt,
and Assyria shall be their king, because they have refused to return to me. (NRSV) 

They shall not return to the land of Egypt,
but Assyria shall be their king, because they have refused to return to me. (ESV)

No!
They return to the land of Egypt,
And Assyria is their king. Because they refuse to repent (NJPS 2017)

Penerjemahan merupakan "the art of failure" (seni kegagalan). Demikian pernyataan dari John Ciardi, penerjemah Inferno karya Dante (sedikit lebih banyak tentang ini, baca artikel ini). Tidak ada terjemahan yang bisa secara sempurna mewakili bahasa aslinya. Sering kali dalam bahasa sumbernya terdapat lapisan-lapisan makna. Penerjemah selalu berhadapan dengan pilihan. Ada terjemahan yang menangkap satu lapisan tertentu, terjemahan lain menghadirkan lapisan lainnya. Hosea 11:5 merupakan contoh menarik dalam penerjemahan.

Tentu saja, ayat ini perlu dibaca dalam konteks Hosea lebih luas. Secara khusus, gagasan "kembali ke tanah Mesir" adalah tema yang berulang (lihat 8:13; 9:3, 6). Dengan menerjemahkan 11:5 secara harfiah ("tidak kembali", mis. ESV; NKJV), ada yang terkesan janggal karena berlawanan dengan tema "kembali ke tanah Mesir" dan Israel yang tidak mau bertobat di ayat yang sama. Selanjutnya, di ayat 11, pasal yang sama, pada waktu pemulihan mereka akan datang "dari Mesir". Ada penafsir yang menduga ada kesalahan penyalinan. Misalnya, kata lo' ("tidak") sebenarnya low (dia) yang menjadi obyek kata kerja 'owkhiyl ("memberi [dia] makan") pada ayat sebelumnya (lih. apparatus BHS; bdk. dunêsomai autö(i), LXX). Memang lo' sebagai bentuk salah-salin untuk low tidak hanya muncul di sini saja (mis. Kel 21:8; Im 11:21; Yes 9:2; 63:9; Mzm 100:3; Ayb 13:15).

Namun, ada yang menilai tidak perlu ada dugaan seperti itu (lih. usulan The Hebrew Old Testament Text Project [HOTTP]; juga A Handbook on Hosea and Joel terbitan UBS). Ungkapan "kembali ke Mesir" yang muncul beberapa kali dalam kitab Hosea perlu dipahami sebagai kiasan. Kembali ke Mesir bisa berarti Israel harus takluk pada kekuatan bangsa lain manapun, termasuk Asyur. Pertanyaannya terkait ayat yang kita bahas: apakah harus dimengerti secara figuratif juga?

Jadi, penafsir dan penerjemah sebenarnya mendapat dua pilihan. (1) Menerjemahkan secara harfiah dengan menilai bahwa Israel memang tidak kembali ke negeri Mesir, melainkan tunduk kepada Asyur. Dalam hal ini, Mesir tidak dipahami secara figuratif. Menurut Francis Landy, di sinilah klimaks di mana Mesir tidak dapat diandalkan lagi karena sudah tidak ada lagi (hlm. 162). Israel tidak akan kembali ke Mesir, tetapi mereka kembali ke "Mesir" lain, yaitu Asyur. (2) Pilihan lainnya, yang banyak diikuti terjemahan (mis. NRSV; NET; NAB; TB 1), menyesuaikan ayat ini dengan tema besar "kembali ke Mesir" (simbol perbudakan). Menariknya, dalam bahasa Ibrani, partikel lo' ("tidak") mungkin saja dalam kasus tertentu, seperti di sini, dimaknai "pasti" (lihat catatan kaki ESV). Namun, lebih baik mempertahankan apa yang tersedia dalam teks itu dalam arti yang paling lazim atau wajar. NJB membuat terjemahan lebih bernuansa: "He will not have to go back to Egypt" (Ia tidak akan perlu kembali ke Mesir). Demikian juga, TB Edisi 2 yang baru terbit menyadari hal ini dan menerjemahkan 11:5 begini: "Bukankah mereka harus kembali ke tanah Mesir? Biarlah Asyur menjadi raja mereka, sebab mereka menolak untuk bertobat." Menjadikannya pertanyaan retoris juga telah dilakukan NIV: Will they not return to Egypt and will not Assyria rule over them [...]?). Lebih menarik lagi, NJPS (2017) yang dikerjakan oleh institusi umat Yahudi menerjemahkan lo' (tidak) sebagai seruan yang berdiri sendiri: No! They return to the land of Egypt [...].

Jadi, kedua opsi penerjemahan, antara kembali atau tidak kembali ke tanah Mesir, memang sepintas tampak bertentangan. Akan tetapi, keduanya sebenarnya sama saja secara makna: Israel harus kembali ke pembuangan seperti apa yang dahulu dialami mereka di Mesir. Namun, kali ini mereka tidak kembali ke Mesir, tetapi Asyur. Hal ini menjadi jelas, ketika pembaca melihatnya dalam dinamika tema "kembali ke Mesir" dalam kitab Hosea.

Terakhir, perlu catatan mengenai kedudukan terjemahan. Banyak orang secara tepat melihat pentingnya bahasa sumber (Ibrani, Aram, Yunani). Namun, ada pula yang menjadi lebih skeptis atau menolak terjemahan. Pernyataan Ciardi tentang terjemahan sebagai "seni kegagalan" mungkin terdengar menganggu. Dalam konteks Kekristenan, terjemahan sudah mendapat tempat khusus. Terjemahan Yunani dari kitab-kitab Ibrani (Yunani Lama atau "Septuaginta"), telah menjadi Kitab Suci bagi orang-orang Kristen pertama. Dua kenyataan ini, terjemahan sebagai "kegagalan" dan diakuinya terjemahan sebagai Kitab Suci, bisa didekati dengan memahami bahwa kebenaran dan ketepatan tidak diukur melalui keakurasian linguistik atau formal. Terjemahan merupakan upaya ambil bagian dalam tradisi suci yang menghormati teks bahasa sumber tetapi tidak membatasinya. Tradisi kitab suci sendiri sejak semula merupakan tradisi lintas bahasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar Anda terhadap artikel situs ini