Jumat, 13 Februari 2026

Sebuah Refleksi: Penebusan Sebagai Nalar Publik Melawan Trivialisme


Tidak adakah balsam di Gilead? Tidak adakah tabib di sana? Mengapakah belum datang juga pemulihan bagi putri bangsaku? (Yer 8:22 TB 2)

Namun, Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan, “Tuhan, lihatlah, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” (Luk 19:8 TB 2)

Dua teks di atas diambil masing-masing dari Kitab Yeremia dan Injil Lukas, dua komposisi dari zaman yang berjauhan, tetapi sama-sama memiliki perhatian khusus pada isu keadilan sosial politis. Di kalangan umat beragama kini, masih kuat semacam kepasifan, yang menyerupai pandangan apokaliptis yang mengandalkan kekuatan Allah. Apakah penebusan dapat dicermati tidak melulu dalam konteks karya Allah, tetapi juga tuntutan serius pada manusia? Refleksi berikut menjawabnya secara positif dan mengemukakan penebusan tidak hanya sebagai bahasa religius tetapi juga etika atau nalar publik di tengah problematika kita: racun trivialisme.

Kata-kata ratapan merupakan cuplikan nubuatan Yeremia yang hidup 2600 tahun yang lalu. Ia memperingatkan kedatangan kekuasaan Babilonia yang mengakibatkan terbuangnya bangsa Yehuda (587 SM). Penyembahan berhala merupakan salah satu penyebab kejatuhan bangsa, namun persoalannya tidak bisa dilepaskan dari masalah yang lebih pelik, baik sosial maupun ekonomi, yang melumpuhkan kehidupan mereka sebagai bangsa. Ketidakadilan, penghambaan kepada uang, penindasan, dan kepalsuan berpadu menjadi satu persoalan fatal. Selain itu, hadirnya nabi-nabi pendukung kekuasaan beraktivitas tidak ubahnya pendengung (buzzer) dalam politik zaman modern. Tak ayal seiring berjalannya waktu konflik internal antar nabi menguat. Dalam tradisi terjemahan Yunani Lama, atau "Septuaginta", bahkan mereka lebih spesifik diistilahkan sebagai nabi-nabi palsu (pseudoprofetai). Diproklamasikan oleh mereka “damai”, sementara kenyataannya kengerian yang semakin dekat tanpa disadari.

“Tidak adakah ramuan di Gilead?” “Tidak adakah tabib di sana?” Pertanyaan ini retoris dan mengisyaratkan persoalan terkait mereka yang diharapkan bisa menyelesaikan masalah. Institusi yang diamanatkan untuk kemajuan dan kesejahteraan justru menjadi pendusta dan penindas. Potret yang ditampilkan terkesan pesimistis. TUHAN sendiri bahkan terlalu lemah untuk turun tangan. Ia sendiri meratapi kenyataan. Dalam The Theology of the Book of Jeremiah (2007)Walter Brueggemann menulis berikut:
Bahkan TUHAN tidak dapat campur tangan untuk menyelamatkan. Penyakit yang diderita sudah terlalu jauh berlarut-larut, dan TUHAN tahu dan harus menyerahkan Israel yang dikasihi-Nya kepada kuasa kematian. TUHAN tidak dapat atau tidak akan menyelamatkan. Apapun jalan yang diambil, hasil akhirnya akan sama saja. (hlm. 92)
Kitab Yeremia terdiri dari lapisan-lapisan tradisi, oleh karenanya kita diberikan gambaran Allah yang dinamis. Barangkali, memang yang kita saksikan di sini adalah "Allah yang lemah" seperti yang pernah diajukan oleh John D. Caputo, atau "Allah yang menderita" oleh Jürgen Moltmann.

Jeremiah Meratapi Kehancuran Yerusalem (1630),
karya Rembrandt (Rijksmuseum, Amsterdam)
Di tengah situasi Indonesia saat ini, pesan Yeremia terdengar masih relevan. Para pemimpin, aparat dan institusi negara yang diamanatkan untuk mengupayakan kesejahteraan dan menjamin keamanan rakyat, tampak terjerumus dalam dosa-dosa klasik: ketidakadilan, keserakahan, serta kepalsuan. Mau atau tidak kita mengakuinya, deretan peristiwa yang telah kita saksikan sejauh ini memperlihatkan pengkhianatan terhadap nilai-nilai luhur bersama.

Sungguhkah tidak ada ramuan penyembuh di “Gilead” kita? Tradisi religius yang terang benderang terekam dalam Kitab Suci dan dipelihara oleh Gereja, mengajarkan bahwa setiap kesalahan tidak dapat dipandang enteng, tetapi hanya mungkin diselesaikan oleh pengurbanan dan penebusan. Kalau kembali pada gambaran ketidakberdayaan Allah di atas, "kelemahan"-Nya justru merupakan jalan menuju penebusan. Mengapa Allah harus menunggu dan membayar suatu harga untuk menyelamatkan? Hal ini mengisyaratkan tuntutan serius pada pihak manusia.

Dibutuhkan kesadaran penuh, bahwa setiap kesalahan memiliki daya perusak yang menuntut tindakan atau perbuatan yang memiliki daya pemulih yang sepadan kekuatannya. Pemulihan tiba ketika kita mengerti bagaimana mengakui serta menebus segala kesalahan, bukan menutupinya dengan pelbagai kepalsuan baru. Kita hidup dalam semesta bersama, sudah muak dan terlatih untuk curiga dan marah terhadap segala bentuk janji dan ucapan maaf, semata-mata karena semuanya itu tidak memiliki kekuatan pemulih yang diharapkan.

Penderitaan Allah, ratapan-Nya (lih. Yer 9:1), mengalihkan perhatian pada tuntutan moral pada kita. Kepasifan politis kita tidak mampu menjawab hal ini. Sesungguhnya, harapan juga merupakan tanggung jawab manusia. Kitab Yeremia menampilkan prinsip moral-etis yang tidak lekang oleh zaman: keadilan (mišpat) dan amanah (ʿemunâ). Kedua hal ini adalah nalar bersama (public reason), yang melampaui teritori dan tradisi agamawi tertentu. Dengan kata lain, ini merupakan naluri rakyat. Demikian juga penebusan. Akan tetapi, perangai politis dan komunikasi publik dari institusi-institusi manusia nyaris selalu gagal dalam hal ini. Tidak ada waktu membela diri, setiap pihak dituntut mengakui dan menebus kesalahan demi pemulihan yang sesungguhnya. Karakter Zakheus dalam narasi Injil Lukas, ketika menjamu Tuhan, menunjukkan respons yang serius: menyerahkan separuh kekayaannya untuk orang miskin, lalu mengembalikan empat kali lipat hasil korupsinya. Hal tersebut dilakukan tanpa menerima desakan atau menyaksikan keajaiban. Tindakan “mengembalikan” mengisyaratkan penebusan oleh si pendosa, yang menyelamatkan hidupnya dan mengembalikan martabat serta integritas dirinya.

Saat ini di negeri kita, publik menanti-nantikan tindakan yang sepadan seriusnya dengan dosa serta akibat yang telah timbul. Sementara itu, ironisnya permintaan maaf sudah nyaris menjadi semacam hak istimewa (privilege) kelompok elit guna menutupi ketidakkompetenan. Trivialisme atau "trivialisasi" terhadap persoalan serius menjadi semakin normal bagi sebagian pihak. Sebaliknya, diskursus penebusan melawan kecenderungan tersebut.

Yeremia meratap pilu sebab ia berada di antara cinta pada bangsanya dan bencana dahsyat yang tidak mungkin terelakkan. Pesannya tetap mengandung harapan. Kita berharap apa yang sedang dialami negeri ini tidak persis sama dengan situasi kerajaan Yehuda. Alih-alih bersikap pasif, setiap orang dipanggil untuk bertindak, mengerti bahwa setiap kesalahan tidak boleh dipandang ringan, tetapi menuntut penebusan. Teologi anugerah tidak semestinya mengaburkan etika pertobatan. Akhir kata, semoga refleksi ini juga mendorong artikulasi penebusan sebagai bahasa publik yang relevan, tidak hanya semata-mata sebagai bahasa religius umat.

(Refleksi ini dilatarbelakangi oleh peristiwa kerusuhan tanggal 25-31 Agustus 2025 sebagai protes terhadap kinerja pejabat publik dan aparat negara)

Rabu, 05 November 2025

Samuel Beckett dan Etika: "No matter. Try again. Fail again. Fail better."


Sumber: The Guardian
Pada September 2022, saya tiba di Dublin, Irlandia. Selain menyesuaikan diri dan berkenalan dengan jalan serta tempat di kota ini, dunia dan sejarah intelektual juga menarik perhatian. Tidak salah jika Dublin disebut sebagai kota para penyair. Nama-nama sastrawan seperti Bram Stoker, Oscar Wilde, William B. Yeats, James Joyce, segera muncul sekali anda berselancar di internet. Namun, satu figur menarik perhatian khusus: Samuel Beckett. Kepadanya dianugerahi Nobel Sastra pada 1969 “for his writing, which - in new forms for the novel and drama - in the destitution of modern man acquires its elevation”. Pidato penganugerahan oleh Karl Ragnar Gierow (baca di sini) menyebut pesimisme Beckett sebagai langkah serta posisi moral-etis.

Saya penasaran. Satu prosa karya Beckett, Molloy, pun saya baca sampai habis. Pengalaman membaca Molloy jauh dari kata menghibur atau menarik dalam pengertian normal. Suatu kesempatan, di acara Theological Society, Trinity College, saya mengikuti ceramah Prof. Declan Kiberd yang mengajukan pertanyaan: Apakah Beckett seorang mistikus? Hal ini tentu bukan tanpa dasar.

Hal paling menarik tentang Beckett adalah kegetolannya dengan tema kegagalan. Bahkan, satu artikel The Guardian (baca di sini) menyebut dia sebagai "the maestro of failure". Untuk Beckett, kegagalan bukan sekadar tema tetapi "mesin" estetika atau seni. Gaya tulisannya mencerminkan atau membeberkan ketidakmampuan bahasa atau sastra untuk menjelaskan kenyataan hidup. Ia menolak aturan-aturan baku yang mengontrol kesan bahwa sesuatu bermutu atau tidak. Saya undang anda membaca bagian dari cerita karangan Beckett berikut:
First the body. No. First the place. No. First both. Now either. Now the other. Sick of the either try the other. Sick of it back sick of the either. So on. Somehow on. Till sick of both. Throw up and go. Where neither. Till sick of there. Throw up and back. The body again. Where none. The place again. Where none. Try again. Fail again. Better again. Or better worse. Fail worse again. Still worse again. Till sick for good. Throw up for good. Go for good. Where neither for good. Good and all. (Worstward Ho, 1983)

Dalam estetika Beckett, kegagalan tidak untuk diperbaiki, ditebus, melainkan realitas yang harus diekspos sejujur-jujurnya. Tentang ketidakmampuan bahasa dan sastra dalam mewakili kenyataan, dia sendiri menulis, 

“my case is [...] to admit that to be an artist is to fail, as no other dare fail, that failure is his world and the shrink from it desertion, art and craft, good housekeeping, living”

En attendant Godot (1952)
Dalam karyanya yang lebih dikenal, sebuah drama berjudul En attendant Godot (Menunggu Godot), karakter Vladimir dan Estragon menunggu dan menunggu tanpa kepastian dan hasil. Kegagalan adalah sebuah kondisi eksistensial. Menunggu-nunggu dan berharap juga merupakan perbuatan yang mencerminkan realitas ketegangan, seperti yang dikemukakan Eva Kenny, antara ingin berhenti tetapi tidak mampu (baca artikel Eva Kenny di sini). Menunggu mencerminkan pengakuan kita terhadap nilai dan makna. Perlahan paradoks dalam pesimisme Beckett mulai dapat dimengerti.

Manusia biasanya menganggap kegagalan sebagai pengalaman negatif. Dunia intelektual kita penuh dengan kata-kata motivasi yang mendorong keberhasilan atau pencapaian. Beckett tidak demikian. Semestinya sikapnya ini tidak terlalu mengejutkan. Dari lensa etis, misalnya, perang yang terus terjadi, kelaparan serta bencana kemanusiaan lain, silih berganti, sedangkan kemajuan teknologi dan moral manusia modern dipuja-puja. Realitas tidak pernah dapat diserap dengan kepastian. Beckett mengusung perlawanan terhadap kepastian dengan menekankan ketidaklengkapan. Penjelasan apapun yang menawarkan kepastian memang patut dicurigai. Hal semacam ini tidak akur dengan intuisi motivasional zaman ini. Lucunya, mantra Beckett justru menerima bentuk paling populer untuk kepentingan demikian, semacam normalisasi kesalahan.

Happy Days (1980) disutradarai oleh David Heeley
Penting untuk diketahui, judul yang diberi Beckett, Worstward Ho, merupakan pelesetan, ejekan yang diarahkan pada ambisi kolonial-ekspansionis (baca Eva Kenny). Saya pun diajak untuk melihat sesama tidak dalam kerangka keberhasilan, tetapi sebagai manusia-manusia yang terus bergerak maju. Dengan kata lain, sarannya agar tidak berhenti mencoba. Cukup di situ, tidak usah ditambah dengan "sampai berhasil". Sukses itu tirani, kegagalan membebaskan. Beckett pesimistis, tetapi ia bukan seorang nihilis. Dalam drama Happy Days, "suara yang berseru-seru di padang gurun" (Gierow) adalah kebutuhan akan relasi, pertemanan sejati, di tengah perasaan sepi dan terasing. Dengan begitu, akan lebih besar juga kebutuhan kita akan keramahan, kejujuran, dan keberanian.

Lebih dalam lagi, selain masyarakat menetapkan ukuran-ukuran keberhasilan, setiap orang menghadapi kegagalan untuk dimengerti seutuhnya. David H. Jones, misalnya, mengaitkan Beckett dengan isu luka batin. Karakter-karakter Becket tidak mampu berkata-kata akibat mustahilnya bersaksi secara utuh. Pikiran, ingatan, dan kata-kata, tidak pernah sempurna. Mereka ini, bahkan, "cacat" (disabled). Tidak keliru jika melihat keterkaitan antara kegagalan dan etika kerentanan (ethics of vulnerability) yang jamak dalam diskursus disabilitas. Sementara gagasan mengenai kekuatan dan kemandirian sudah mulai dipertanyakan, sumbangan pemikiran Beckett adalah persistensi sebagai tindakan etis.

Luka batin dan ketidakbermaknaan hidup perlu mendapat perhatian khusus. Beckett sendiri mengalami kondisi mental yang sulit, bahkan depresi. Beckett telah melalui rangkaian kegagalan dalam kariernya sebagai penulisjika mengikuti standar komersial. Latar belakang sosial-politis Irlandia sempat mendisrupsi aktivitas menulisnya. Pikiran dan upaya untuk mengakhiri hidup mungkin terlintas di pikiran sebagian orang yang lumpuh oleh perasaan gagal. Bukankah dengan belajar dari Beckett kita dapat meringankan hal itu? Jalan yang perlu diambil tidak lain adalah melangkah maju mencoba kegagalan demi kegagalan: "gagal dengan lebih baik".

Terdapat keindahan dan martabat dalam setiap kecacatan dan kegagalan. Menurut Karl Ragnar Gierow, dalam pesimisme Beckett ada belas kasih yang dalam dan kejelasan moral di tengah "kepapaan yang diderita manusia modern". Akhir kata, kita menantikan keterbukaan yang lebih berani untuk membincangkan kegagalansebagai estetika maupun etika.

Sabtu, 18 Oktober 2025

O Sapientia, Hikmat dan Keindahan

William Blake, The Ancient of Days (1794)
A. Malcolm Guite merupakan seorang teolog dan penyair Kristen dari Cambridge, Inggris. Saya mengetahui tentang Guite setelah bertemu langsung seusai ia memberi talk mengenai puisi dan iman atas undangan National Bible Society of Ireland, di Abbey Presbyterian Church, Dublin. Puisi O Sapientia (dari Sounding the Seasons, terbitan Canterbury Press, 2012) yang berbentuk soneta sangat menggugah dan bisa menjadi materi reflektif Adven (mis. liturgi, doa) -- bersama karya-karya Guite lain secara khusus merenungkan Allah, Sang Hikmat, tidak semata-mata sebagai sumber kebenaran, kebaikan, tetapi juga keindahan (baca lebih banyak tentang gagasan Guite dari wawancara Jules Evans di sini).

Berikut terjemahan dari O Sapientia (aslinya bisa dibaca di sini). 

Aku tidak dapat berpikir jika aku tidak dipikirkan.
Tidak pula dapat aku berkata-kata jika aku tidak dikatakan.
Aku tidak dapat mengajar kecuali sebagaimana aku diajarkan,
Atau memecah-mecahkan roti kecuali sebagaimana aku dipecahkan.

Ya Pikiran di balik pikiran yang melaluinya aku mencari,
Ya Cahaya dalam cahaya yang memungkinkan penglihatanku,
Ya Kata di bawah kata-kata yang dengannya aku bersaksi,
Ya Sang Pendiri, Hikmat yang tak ditemukan, yang menemukan aku,
Ya Nyanyian yang berbunyi, yang kedalamannya membunyikan aku,
Ya Ingatan waktu, yang mengingatkan aku,
Dasar keberadaanku, yang senantiasa mendasari aku,
Garis-Pembatas dari Khalikku, yang mendefinisikan aku.
Datanglah, Hikmat tersembunyi, datanglah bersama semua yang Kaubawa,
Datanglah kepadaku saat ini, terselubung sebagai segala.

Soneta merupakan bentuk puisi yang memperhatikan irama dan kesimetrisan bunyi. Perhatikan, misalnya, bagaimana "the light by which I see" (bait 2) diterjemahkan secara dinamis, "cahaya yang memungkinkan penglihatanku", agar memenuhi kesamaan rima dengan baris terakhir "yang menemukan aku". Begitu pula, verba "bersaksi" dipilih sebagai padanan "speak", agar serima (rhyming) dengan "mencari". Bukankah di sini tecermin situasi di mana kepatuhan pada bentuk itu membebaskan ekspresinya? Memang paradoks.

Mengenai ekspresi seorang seniman dan keterampilan mengeksekusi bentuk atau teknik, Guite menulis refleksinya tentang kebebasan yang berdasar pada ketaatan. Paradoks itu diperjelas ketika ia menulis (lengkap baca di sini): 

Saya membayangkan diri ini, hidup saya sendiri, bukan sebagai suatu bentuk ekspresi diri semau-maunya, melainkan sebagai puisi yang masih diucapkan oleh Pencipta saya. Dia telah memilih suatu bentuk tertentu untuk saya sebagai puisi. Dia telah menetapkan garis-garis pembatas bagi saya dan sejalan dengan garis-garis itu saya tidak hanya menjalankan daya cipta saya, tetapi juga lebih menjadi diri sendiri; saya memperoleh bentuk dan koherensi.
Guite dipengaruhi oleh William Blake (1757-1827) ketika ia menggunakan metafora "garis pembatas" (bounding line) -- langkah dasar proses kreatif seniman tersebut. Blake mengaktualisasi garis pembatas tidak dengan garis-garis lurus tetapi meliuk-liuk seperti nyala api atau aliran sungai. Garis pembatas yang tegas dan jelas membuat suatu gambar tidak cuma berkarakter tetapi hidup. Seni merepresentasikan dunia spiritual yang tidak kasatmata (baca di sini). Dalam O Sapientia, yang tidak kelihatan itu adalah personifikasi Hikmat. Jadi, sungguhkah keindahan itu semata-mata kenikmatan subyektif (in the eyes of beholder)? 

Sabtu, 04 Oktober 2025

Obituarium: Beristirahatlah dalam Damai, David!

Tulisan singkat ini pengingat bahwa pribadi yang pernah hadir sebagai guru menempati ruang khusus dalam hati seseorang seperti saya.

Dr. David Kwang-sun Suh (1931-2022) adalah dosen saya ketika menempuh pendidikan di Divinity School of Chung Chi College pada tahun 2012. Beliau mengajar sebagai visiting professor (dosen tamu) untuk dua mata kuliah: Asian Christian Theologies bersama Dr. Timothy Light, dan Jesus Christ in Asian Contexts.

Sebagai seorang teolog Minjung generasi pertama, David membantu saya memahami lebih baik latar belakang teologi Minjung. Teologi kontekstual Korea ini menguat pada tahun 1970an, dan berbicara tentang keberpihakan Allah pada Minjung, rakyat jelata yang tertindas. Teologi Minjung berkarakter kultural dan politis sebagai tanggapan terhadap kediktatoran militer Korea waktu itu.

Pengalaman panjang dan pahit David sendiri memberi sentuhan yang amat personal pada setiap sesi kuliah yang diberikannya. Beliau menjelaskan apa itu han yang dirasakan rakyat Korea: semacam kesenduan dan amarah yang tak terkatakan. Han seperti menangis tanpa air mata. Kisah hidupnya tentang kepahitan, dendam, tetapi juga pengampunan (sila baca di sini). Saya mendengar langsung pengalaman biografis David membentuk teologi yang diusungnya. Tidak dipungkiri bahwa teologi selalu membawa dimensi otobiografis. Hal ini mengingatkan saya pada pengalaman teolog-teolog seperti Bonhoeffer, Moltmann, dan lain-lain.

Untuk perkuliahan Jesus Christ in Asian Contexts, saya menulis refleksi mengenai teologi sesama manusia dari Kosuke Koyama. David memberi tanggapan positif, dan menyimpulkan, "[...] if you begin with some commonality with clear understanding [of] what you are talking about, a genuine dialogue can begin and reconciliation become possible." (Jika Anda mulai dengan kesamaan serta memahami jelas apa yang Anda bicarakan, dialog yang tulus dapat dimulai dan rekonsiliasi menjadi mungkin). Kata-katanya ringkas merangkum hal mendasar dalam setiap perjumpaan dengan pihak yang lain. Tugas berteologi terutama tecermin pada "clear understanding [of] what you are talking about". Saya mungkin membuat analisa berlebihan atas komentar beliau yang singkat, tetapi diksi "clear understanding" alih-alih correct atau right mencerminkan dialektika berteologi yang harus mendapat perhatian.

David memiliki pengalaman panjang di dunia pendidikan teologi di luar tugas mengajar. Antara lain, beliau pernah menjabat sebagai Vice President di United Board for Christian Higher Education in Asia. United Board berkantor di Hong Kong dan memayungi banyak institusi pendidikan tinggi Kristen di Asia, termasuk Indonesia. Beliau juga profesor kehormatan di Chinese University of Hong Kong. David juga dikenal aktif dan berperan dalam gerakan oikoumene YMCA. Tidak heran, refleksi dan tanggapan dari seseorang dengan karier dan pengalaman yang begitu panjang, tidak hanya berwawasan tetapi juga bijaksana.

Beliau pria Korea yang ramah dan humoris. Ketika tiba giliran saya untuk presentasi dalam kuliah Asian Christian Theologies, David yang pernah mengunjungi Yogyakarta, mengenakan kemeja batik. Dengan bangga beliau memutar badan bak peragawan sambil tersenyum lebar. Hal itu dilakukan untuk mendukung presentasi saya tentang teologi dalam konteks Indonesia. Dalam kelas yang lain, beliau menceritakan pengalaman lucu kekesalannya saat ada orang keliru mengenalinya, mengira dia Kosuke Koyama, teolog asal Jepang yang ternama itu. David juga berseloroh tentang posisinya sebagai pengajar tetap di Ewha Womans, yang adalah universitas untuk perempuan. Satu lagi, pendidikan tingginya ditempuh seluruhnya di Barat, dan Summa dari Thomas Aquinas adalah bacaan yang menurutnya bagus untuk membantu tidur.

Setelah berjuang melawan COVID-19, David meninggal dunia pada usia 92 tahun, pada tanggal 26 Februari 2022. Banyak orang yang pasti merasa kehilangan. Ingatan tentang David tetap tinggal bagi setiap orang yang pernah mengenal dan belajar dari beliau. Tulisan singkat ini bentuk hormat seorang murid kepada pendidik yang pernah memberi bentuk dalam perjalanan intelektual dan iman saya. Requiescat in pace.

https://unitedboard.org/united-board-remembers-dr-david-kwang-sun-suh/

Jumat, 03 Oktober 2025

Hosea 11:5: Kembali atau Tidak Kembali ke Mesir?







Bukankah mereka harus kembali ke tanah Mesir?
Biarlah Asyur menjadi raja mereka, sebab mereka menolak untuk bertobat. (TB 2)

Mereka harus kembali ke tanah Mesir,
dan Asyur akan menjadi raja mereka, sebab mereka menolak untuk bertobat.  (TB)

They shall return to the land of Egypt,
and Assyria shall be their king, because they have refused to return to me. (NRSV) 

They shall not return to the land of Egypt,
but Assyria shall be their king, because they have refused to return to me. (ESV)

No!
They return to the land of Egypt,
And Assyria is their king. Because they refuse to repent (NJPS 2017)

Penerjemahan merupakan "the art of failure" (seni kegagalan). Demikian pernyataan dari John Ciardi, penerjemah Inferno karya Dante (sedikit lebih banyak tentang ini, baca artikel ini). Tidak ada terjemahan yang bisa secara sempurna mewakili bahasa aslinya. Sering kali dalam bahasa sumbernya terdapat lapisan-lapisan makna. Penerjemah selalu berhadapan dengan pilihan. Ada terjemahan yang menangkap satu lapisan tertentu, terjemahan lain menghadirkan lapisan lainnya. Hosea 11:5 merupakan contoh menarik dalam penerjemahan.

Tentu saja, ayat ini perlu dibaca dalam konteks Hosea lebih luas. Secara khusus, gagasan "kembali ke tanah Mesir" adalah tema yang berulang (lihat 8:13; 9:3, 6). Dengan menerjemahkan 11:5 secara harfiah ("tidak kembali", mis. ESV; NKJV), ada yang terkesan janggal karena berlawanan dengan tema "kembali ke tanah Mesir" dan Israel yang tidak mau bertobat di ayat yang sama. Selanjutnya, di ayat 11, pasal yang sama, pada waktu pemulihan mereka akan datang "dari Mesir". Ada penafsir yang menduga ada kesalahan penyalinan. Misalnya, kata lo' ("tidak") sebenarnya low (dia) yang menjadi obyek kata kerja 'owkhiyl ("memberi [dia] makan") pada ayat sebelumnya (lih. apparatus BHS; bdk. dunêsomai autö(i), LXX). Memang lo' sebagai bentuk salah-salin untuk low tidak hanya muncul di sini saja (mis. Kel 21:8; Im 11:21; Yes 9:2; 63:9; Mzm 100:3; Ayb 13:15).

Namun, ada yang menilai tidak perlu ada dugaan seperti itu (lih. usulan The Hebrew Old Testament Text Project [HOTTP]; juga A Handbook on Hosea and Joel terbitan UBS). Ungkapan "kembali ke Mesir" yang muncul beberapa kali dalam kitab Hosea perlu dipahami sebagai kiasan. Kembali ke Mesir bisa berarti Israel harus takluk pada kekuatan bangsa lain manapun, termasuk Asyur. Pertanyaannya terkait ayat yang kita bahas: apakah harus dimengerti secara figuratif juga?

Jadi, penafsir dan penerjemah sebenarnya mendapat dua pilihan. (1) Menerjemahkan secara harfiah dengan menilai bahwa Israel memang tidak kembali ke negeri Mesir, melainkan tunduk kepada Asyur. Dalam hal ini, Mesir tidak dipahami secara figuratif. Menurut Francis Landy, di sinilah klimaks di mana Mesir tidak dapat diandalkan lagi karena sudah tidak ada lagi (hlm. 162). Israel tidak akan kembali ke Mesir, tetapi mereka kembali ke "Mesir" lain, yaitu Asyur. (2) Pilihan lainnya, yang banyak diikuti terjemahan (mis. NRSV; NET; NAB; TB 1), menyesuaikan ayat ini dengan tema besar "kembali ke Mesir" (simbol perbudakan). Menariknya, dalam bahasa Ibrani, partikel lo' ("tidak") mungkin saja dalam kasus tertentu, seperti di sini, dimaknai "pasti" (lihat catatan kaki ESV). Namun, lebih baik mempertahankan apa yang tersedia dalam teks itu dalam arti yang paling lazim atau wajar. NJB membuat terjemahan lebih bernuansa: "He will not have to go back to Egypt" (Ia tidak akan perlu kembali ke Mesir). Demikian juga, TB Edisi 2 yang baru terbit menyadari hal ini dan menerjemahkan 11:5 begini: "Bukankah mereka harus kembali ke tanah Mesir? Biarlah Asyur menjadi raja mereka, sebab mereka menolak untuk bertobat." Menjadikannya pertanyaan retoris juga telah dilakukan NIV: Will they not return to Egypt and will not Assyria rule over them [...]?). Lebih menarik lagi, NJPS (2017) yang dikerjakan oleh institusi umat Yahudi menerjemahkan lo' (tidak) sebagai seruan yang berdiri sendiri: No! They return to the land of Egypt [...].

Jadi, kedua opsi penerjemahan, antara kembali atau tidak kembali ke tanah Mesir, memang sepintas tampak bertentangan. Akan tetapi, keduanya sebenarnya sama saja secara makna: Israel harus kembali ke pembuangan seperti apa yang dahulu dialami mereka di Mesir. Namun, kali ini mereka tidak kembali ke Mesir, tetapi Asyur. Hal ini menjadi jelas, ketika pembaca melihatnya dalam dinamika tema "kembali ke Mesir" dalam kitab Hosea.

Terakhir, perlu catatan mengenai kedudukan terjemahan. Banyak orang secara tepat melihat pentingnya bahasa sumber (Ibrani, Aram, Yunani). Namun, ada pula yang menjadi lebih skeptis atau menolak terjemahan. Pernyataan Ciardi tentang terjemahan sebagai "seni kegagalan" mungkin terdengar menganggu. Dalam konteks Kekristenan, terjemahan sudah mendapat tempat khusus. Terjemahan Yunani dari kitab-kitab Ibrani (Yunani Lama atau "Septuaginta"), telah menjadi Kitab Suci bagi orang-orang Kristen pertama. Dua kenyataan ini, terjemahan sebagai "kegagalan" dan diakuinya terjemahan sebagai Kitab Suci, bisa didekati dengan memahami bahwa kebenaran dan ketepatan tidak diukur melalui keakurasian linguistik atau formal. Terjemahan merupakan upaya ambil bagian dalam tradisi suci yang menghormati teks bahasa sumber tetapi tidak membatasinya. Tradisi kitab suci sendiri sejak semula merupakan tradisi lintas bahasa.

Selasa, 31 Oktober 2017

The Jewish Gospels:The History of the Jewish Christ

The Jewish Gospels:The History of the Jewish Christ ditulis oleh Daniel Boyarin, terbit di tahun 2012. Boyarin adalah Professor kebudayaan Talmud dan retorika di Universitas California, Berkeley.

Secara garis besar Boyarin mengamati semakin diakui bahwa kitab-kitab (Injil maupun surat-surat) yang dipegang orang Kristen merupakan bagian dari keagamaan umat Israel di abad pertama Masehi. Ia melihat bahwa apa yang dipahami sebagai Kristologi Kristen, yaitu Yesus sebagai Mesias, yang manusia sekaligus ilahi itu,  juga ada dalam ranah keagamaan Yahudi pada masanya (hlm. 22).

Kuncinya adalah keberagaman Yudaisme pada abad-abad pertama. Dan menurut Boyarin sudah sepatutnya batasan-batasan antara Yahudi dan Kristen di masanya tidak lagi dipertajam. Sebaliknya harus dikaburkan! Dengan demikian, kita bisa memahami situasi sejarah dengan lebih jelas berkaitan dengan perkembangan Kekristenan mula-mula dan agama Yahudi. Konsep-konsep tentang Yesus sebagai anak Allah, dan bahkan Tritunggal (hlm. 102), ternyata bukanlah barang baru dan mengejutkan dalam konteks agama Yahudi abad pertama. Kepercayaan para pengikut Kristus mula-mula harus dilihat dalam konteks keberagaman dalam agama Yahudi sendiri.

Seperti diungkapkan salah satu endorser-nya (J. J. Collins, Yale), buku ini termasuk provokatif. Ya, sangat provokatif untuk sebuah buku kecil dengan beberapa argumen yang tidak mudah diterima. Mungkinlah tujuan penulis semata memprovokasi diskusi yang lebih tentang hubungan Yahudi dan Kristen di abad pertama. Schaefer dalam tinjauannya terhadap buku ini menyesali minimnya originalitas Boyarin dan menganggapnya sangat spekulatif. Buku ini nampaknya gagal memperhitungkan kebaharuan ide-ide gerakan kekristenan yang berlainan dari matriks agama Yahudi. Mengaburkan batasan antara keduanya sungguh mengecewakan dan membuat pembaca mengernyitkan dahi. Seperti yang diingatkan Larry Hurtado dalam blog post-nya, salah satu keunikan para pengikut Kristus adalah kepercayaan kepada Kristus yang bangkit dan memberi-Nya devosi yang sama seperti kepada Allah sendiri. Memang, masih sulit membayangkan bagaimana sebuah gerakan Kristen yang begitu distinctive dan berpengaruh bisa muncul dan menjadi identitas tersendiri di lingkungan Yahudi seperti yang digambarkan Boyarin. Walaupun demikian, gagasan bahwa tidak ada pemisah yang jelas antara Kristen Yahudi dan Yahudi sendiri beralasan ketika kita menelisik apa itu identitas bagi masing-masing mereka. Apa yang ciri seorang Kristen pada waktu itu? Boyarin menyadari betul permasalahan menyangkut identitas yang dicirikan seumpama membuat checklists fitur-fitur yang menandakan suatu kelompok. Ia mau katakan bahwa pada masa ketika Injil ditulis identitas Kristen masih sangat terpaut dengan Keyahudian sehingga nyaris tidak mungkin untuk melihat Kekristenan sebagai suatu identitas tersendiri yang kemudian berhasil menjadi agama berbeda. Misalnya, selama berabad-abad di antara penganut Agama Yahudi yang taat ada yang juga mengimani keilahian Yesus. Bahkan, istilah "keyahudian" atau "Agama Yahudi" sarat dengan gagasan identitas yang mengandaikannya sebagai kategori yang jelas dan mudah dibedakan. Pertanyaan berikut menarik: Bagaimana kita dapat berbicara tentang Kristen dan Yahudi di abad-abad pertama ketika kedua kategori tersebut belum dapat mewakili situasi sebenarnya? Itulah yang patut diapresiasi dari buku kecil Boyarin ini.


Jumat, 27 Oktober 2017

Betulkah Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani?


Ketika duduk di bangku sekolah dan menerima pelajaran Agama Kristen, kita sudah belajar bahwa Alkitab ditulis dalam 2 bahasa utama, yakni Ibrani untuk PL dan Yunani Koine untuk PB. Adapun Yunani Koine merupakan ragam bahasa Yunani yang dipakai dalam masyarakat yang dipengaruhi budaya Helenis (Yunani) dari abad ke-3 SM hingga ke-2 M. Syukurlah jika masih banyak di antara kita mengingat pelajaran berharga ini. Namun, ternyata banyak orang berpandangan yang berbeda mengenai PB.


Ketika Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menghadapi gugatan kalangan tertentu yang mengecam Alkitab terjemahan LAI di meja hijau, ada hal yang menarik untuk diamati. Saksi ahli dari pihak penggugat menyampaikan argumentasinya dengan mengutip ayat-ayat dari PB dengan merujuk pada bahasa aslinya, yang menurut keyakinannya adalah bahasa Ibrani. Saksi ahli itu dengan lancar mengucapkan kalimat-kalimat dalam bahasa Ibrani. Bahkan ia menyebutkan nama-nama kitab secara berbeda dari yang lazimnya, semisal Injil Yohanes disebutnya dengan Injil Yokhanan. Jelas sekali, baginya, PB berasal dari bahasa Ibrani dan nama-nama yang sudah dikenal pun sejatinya adalah nama-nama Ibrani. Alasan utama mengapa demikian adalah fakta bahwa Yeshua (memang demikian nama Yesus dalam bahasa Ibrani) berbahasa Ibrani (bukan Aram apalagi Yunani) sehingga tidaklah wajar apabila kitab-kitab PB kemudian ditulis dalam bahasa Yunani. Selain itu, ia meyakini nama tidak dapat diterjemahkan! Benarkah demikian?


Rylands Library Papyrus P52
Namun, perlu diketahui bahwa tidak ada bukti jika kitab-kitab PB ditulis dalam bahasa Ibrani. Kenyataannya, kita memiliki lebih dari 5800 manuskrip kuno PB dalam bahasa Yunani yang kemudian menjadi dasar penerjemahan PB ke dalam berbagai bahasa. Fragmen PB paling tua berasal dari akhir abad ke-2 dan kini tersimpan di John Rylands University Library, Manchester, Inggris. Memang ada juga beberapa manuskrip dalam bahasa Ibrani, semisal Du Tillet yang barangkali berasal dari Italia abad ke-14. Tidak banyak, dan bisa dipastikan naskah semacamnya merupakan terjemahan dari bahasa Yunani (atau bahasa lain). Jika demikian, dari manakah saksi ahli penggugat LAI itu mendapat teks PB dalam bahasa Ibrani yang dipakainya dan diyakininya sebagai PB yang asli? Tidak lain terjemahan dari bahasa Yunani atau bahkan dari bahasa lain! Berdasarkan keyakinan bahwa PB yang asli dalam bahasa Ibrani, pendukung teori ini berusaha merekonstruksi “teks asli” dengan menerjemahkan balik ke bahasa Ibrani. Mengherankan sekali bagaimana teori semacam ini begitu banyak peminatnya dan bukti tekstual yang ada dengan begitu saja diabaikan.


Sebenarnya alasan kelompok "Ibrani" begitu yakin PB pertama kali ditulis dalam bahasa Semit ini adalah kenyataan bahwa ada Semitisme (pengaruh bahasa Ibrani/Aram) dalam bahasa Yunani yang dipakai dalam naskah-naskah yang ada. Berangkat dari fakta inilah muncul anggapan bahwa PB Yunani yang ada merupakan terjemahan yang "gagal" dari teks Ibrani yang asli. Namun, pendekatan ini jelas mengabaikan fakta lain, bahwa orang-orang Yahudi dan para pengikut Yesus pada abad pertama juga bisa berbahasa Yunani. Mereka multilingual! Kalau dikatakan Yesus berbahasa Ibrani (konsensus para pakar PB menyebutkan Aram sebagai bahasa Tuhan Yesus), hal ini tidak serta merta mengharuskan kita menyimpulkan PB pasti ditulis dalam bahasa yang sama. Bahasa Yunani sudah begitu berakar dalam kehidupan umat pada masa pelayanan Tuhan Yesus, bahkan sebelum dan sesudahnya. Bahasa Yunani koine (koine= umum) telah menjadi bahasa pergaulan (lingua franca) di Alexandria (Mesir) dan daerah timur Mediterania sedini abad ke-3 SM. Hal ini terbukti dengan digunakannya terjemahan Kitab Suci umat Yahudi ke dalam bahasa Yunani, yakni yang kini dikenal sebagai LXX (Septuaginta). Well, tidak tepat juga menyebutnya sebagai terjemahan, karena ada beberapa kitab yang memang ditulis asli dalam bahasa Yunani. Keterangan mengenai terjemahan yang berotoritas ini diperoleh dari Surat Aristeas dan catatan sejarahwan. Bagaimana kita tahu LXX digunakan pada waktu itu? Sejarah teks Alkitab sendiri yang mengungkapkannya. Contoh, ketika Matius mengutip Yes 7:14 (Sesungguhnya, seorang perempuan muda [Ibr. haʿalmanah] mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel), ia tidak secara persis mengutip perkataan Yesaya "Sesungguhnya, anak dara itu [Yun. hē parthenos] akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” (Mat 1:23). Bagaimana “perempuan muda” menjadi “anak dara” (atau perawan) dalam tulisan Matius? Dalam Yes 7:14, LXX ternyata menyebut parthenos (anak dara atau perawan), kata yang sama seperti dalam Matius. Dengan kata lain, dasar penulisan Matius adalah terjemahan Yunani itu sendiri, bukan Alkitab Ibrani! Hal yang sama berlaku setiap kali penulis kitab PB mengutip PL: mereka selalu mengutip berdasarkan terjemahan LXX.


Sebagaimana sudah disinggung di atas, upaya menemukan kembali teks Ibrani PB dengan menerjemahkan balik (dari bahasa sasaran ke bahasa sumber) pada dasarnya bermasalah. Memang penerjemahan balik masih dilakukan guna menguji sebuah terjemahan. Lembaga Alkitab Indonesia juga memanfaatkan cara ini dalam proses penerjemahan ke dalam bahasa daerah. Namun, jika untuk merekonstruksi bentuk asli sebuah teks yang dihasilkan ribuan tahun silam, penerjemahan balik (back-translation) merupakan upaya yang beresiko. Dulu, seorang Yahudi, profesor bahasa Arab di Universitas Oxford, David S. Margoliouth (1858-1940) menerjemahkan balik Kitab Ben Sirakh ke dalam bahasa Ibrani. Aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani, Ben Sirakh terpelihara dalam bahasa Yunani. Namun, apa yang terjadi dengan upaya sang profesor? Ketika beberapa porsi Ben Sira dalam bahasa Ibrani akhirnya ditemukan di Cairo Geniza, ternyata tidak ada satu ayat pun yang dengan tepat diterjemahkan balik oleh Prof. D. S. Margoliouth. Jadi, penerjemahan balik sama yang dilakukan para pendukung teori PB Ibrani sebenarnya tidak mungkin mengembalikan teks asli PB jika betul ditulis dalam bahasa Ibrani.


Seandainya betul PB Yunani adalah terjemahan dari PB yang asli dalam bahasa Ibrani, mengapa masih muncul istilah atau ungkapan Aram dalam sebuah terjemahan? Sulit membayangkan bagaimana seorang penerjemah tidak menerjemahkan kata-kata Aram itu. Tulisan yang bukan terjemahan akan lebih cenderung mempertahankan ungkapan asing yang terdapat dalam sumber laporannya. Uraian kita sejauh ini memang tidak memungkiri kemungkinan PB aslinya ditulis dalam bahasa Semit. Namun, belum ada bukti yang kuat untuk meyakini hal itu sebagai kebenaran. Kenyataan lain yang menguatkan PB asli ditulis dalam bahasa Yunani adalah beragamnya gaya bahasa Yunani yang dipakai. Markus menulis dengan gaya bahasa (style) yang sederhana, berbeda dari Lukas yang lebih mendekati gaya tulisan Yunani klasik. Gaya yang berbeda-beda mengindikasikan kemampuan menulis yang berbeda. Berbeda sekali jika seandainya PB merupakan terjemahan karena terjemahan cenderung menggunakan bahasa yang seragam sehingga kecil kemungkinan untuk perbedaan gaya bahasa. Selain memiliki gaya bahasa yang bermacam, kitab-kitab dalam PB berawal dari situasi jemaat yang notabene tidak dominan Yahudi. Injil Markus misalnya ditulis untuk jemaat di Roma yang tidak mengerti bahasa Ibrani. Perjumpaan imam Kristen dengan bangsa-bangsa lain merupakan alasan lain kenapa bahasa Yunani dipakai untuk menyebarkan Kabar Sukacita itu.



Sesungguhnya, tidak keliru jika kita berusaha untuk menggali Alkitab (khususnya PB) dalam terang kebudayaan Semitik di Palestina abad pertama. Namun, menerima PB ditulis dalam bahasa Yunani tidak mesti berarti mengabaikan kenyataan bahwa ruang pelayanan dan berpikir para rasul dan Sang Guru sendiri adalah Semitik (Ibrani atau Aram). Kita harus siap menerima kenyataan bahwa oleh kuasa Roh Kudus Perjanjian Lama ditulis dan dipelihara sampai kini dalam bahasa Ibrani dan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani. Dan kini setiap orang percaya mereguk air kehidupan dari Firman yang tertulis dalam bahasa mereka masing-masing. Bukankah hal demikian keajaiban yang hanya dapat dilakukan oleh Allah sendiri? (Jadesmon Saragih)