Pada September 2022, saya tiba di Dublin, Irlandia. Selain menyesuaikan diri dan berkenalan dengan jalan serta tempat di kota ini, dunia dan sejarah intelektual juga menarik perhatian. Tidak salah jika Dublin disebut sebagai kota para penyair. Nama-nama sastrawan seperti Bram Stoker, Oscar Wilde, William B. Yeats, James Joyce, segera muncul sekali anda berselancar di internet. Namun, satu figur menarik perhatian khusus: Samuel Beckett. Kepadanya dianugerahi Nobel Sastra pada 1969 “for his writing, which - in new forms for the novel and drama - in the destitution of modern man acquires its elevation”. Pidato penganugerahan oleh Karl Ragnar Gierow (baca di sini) menyebut pesimisme Beckett sebagai langkah serta posisi moral-etis.
First the body. No. First the place. No. First both. Now either. Now the other. Sick of the either try the other. Sick of it back sick of the either. So on. Somehow on. Till sick of both. Throw up and go. Where neither. Till sick of there. Throw up and back. The body again. Where none. The place again. Where none. Try again. Fail again. Better again. Or better worse. Fail worse again. Still worse again. Till sick for good. Throw up for good. Go for good. Where neither for good. Good and all. (Worstward Ho, 1983)
Dalam estetika Beckett, kegagalan tidak untuk diperbaiki, ditebus, melainkan realitas yang harus diekspos sejujur-jujurnya. Tentang ketidakmampuan bahasa dan sastra dalam mewakili kenyataan, dia sendiri menulis,
“my case is [...] to admit that to be an artist is to fail, as no other dare fail, that failure is his world and the shrink from it desertion, art and craft, good housekeeping, living”
![]() |
| En attendant Godot (1952) |
Manusia biasanya menganggap kegagalan sebagai pengalaman negatif. Dunia intelektual kita penuh dengan kata-kata motivasi yang mendorong keberhasilan atau pencapaian. Beckett tidak demikian. Semestinya sikapnya ini tidak terlalu mengejutkan. Dari lensa etis, misalnya, perang yang terus terjadi, kelaparan serta bencana kemanusiaan lain, silih berganti, sedangkan kemajuan teknologi dan moral manusia modern dipuja-puja. Realitas tidak pernah dapat diserap dengan kepastian. Beckett mengusung perlawanan terhadap kepastian dengan menekankan ketidaklengkapan. Penjelasan apapun yang menawarkan kepastian memang patut dicurigai. Hal semacam ini tidak akur dengan intuisi motivasional zaman ini. Lucunya, mantra Beckett justru menerima bentuk paling populer untuk kepentingan demikian, semacam normalisasi kesalahan.
![]() |
| Happy Days (1980) disutradarai oleh David Heeley |
Lebih dalam lagi, selain masyarakat menetapkan ukuran-ukuran keberhasilan, setiap orang menghadapi kegagalan untuk dimengerti seutuhnya. David H. Jones, misalnya, mengaitkan Beckett dengan isu luka batin. Karakter-karakter Becket tidak mampu berkata-kata akibat mustahilnya bersaksi secara utuh. Pikiran, ingatan, dan kata-kata, tidak pernah sempurna. Mereka ini, bahkan, "cacat" (disabled). Tidak keliru jika melihat keterkaitan antara kegagalan dan etika kerentanan (ethics of vulnerability) yang jamak dalam diskursus disabilitas. Sementara gagasan mengenai kekuatan dan kemandirian sudah mulai dipertanyakan, sumbangan pemikiran Beckett adalah persistensi sebagai tindakan etis.
Luka batin dan ketidakbermaknaan hidup perlu mendapat perhatian khusus. Beckett sendiri mengalami kondisi mental yang sulit, bahkan depresi. Beckett telah melalui rangkaian kegagalan dalam kariernya sebagai penulis—jika mengikuti standar komersial. Latar belakang sosial-politis Irlandia sempat mendisrupsi aktivitas menulisnya. Pikiran dan upaya untuk mengakhiri hidup mungkin terlintas di pikiran sebagian orang yang lumpuh oleh perasaan gagal. Bukankah dengan belajar dari Beckett kita dapat meringankan hal itu? Jalan yang perlu diambil tidak lain adalah melangkah maju mencoba kegagalan demi kegagalan: "gagal dengan lebih baik".
Terdapat keindahan dan martabat dalam setiap kecacatan dan kegagalan. Menurut Karl Ragnar Gierow, dalam pesimisme Beckett ada belas kasih yang dalam dan kejelasan moral di tengah "kepapaan yang diderita manusia modern". Akhir kata, kita menantikan keterbukaan yang lebih berani untuk membincangkan kegagalan—sebagai estetika maupun etika.







