Sabtu, 18 Oktober 2025

O Sapientia, Hikmat dan Keindahan

William Blake, The Ancient of Days (1794)
A. Malcolm Guite merupakan seorang teolog dan penyair Kristen dari Cambridge, Inggris. Saya mengetahui tentang Guite setelah bertemu langsung seusai ia memberi talk mengenai puisi dan iman atas undangan National Bible Society of Ireland, di Abbey Presbyterian Church, Dublin. Puisi O Sapientia (dari Sounding the Seasons, terbitan Canterbury Press, 2012) yang berbentuk soneta sangat menggugah dan bisa menjadi materi reflektif Adven (mis. liturgi, doa) -- bersama karya-karya Guite lain secara khusus merenungkan Allah, Sang Hikmat, tidak semata-mata sebagai sumber kebenaran, kebaikan, tetapi juga keindahan (baca lebih banyak tentang gagasan Guite dari wawancara Jules Evans di sini).

Berikut terjemahan dari O Sapientia (aslinya bisa dibaca di sini). 

Aku tidak dapat berpikir jika aku tidak dipikirkan.
Tidak pula dapat aku berkata-kata jika aku tidak dikatakan.
Aku tidak dapat mengajar kecuali sebagaimana aku diajarkan,
Atau memecah-mecahkan roti kecuali sebagaimana aku dipecahkan.

Ya Pikiran di balik pikiran yang melaluinya aku mencari,
Ya Cahaya dalam cahaya yang memungkinkan penglihatanku,
Ya Kata di bawah kata-kata yang dengannya aku bersaksi,
Ya Sang Pendiri, Hikmat yang tak ditemukan, yang menemukan aku,
Ya Nyanyian yang berbunyi, yang kedalamannya membunyikan aku,
Ya Ingatan waktu, yang mengingatkan aku,
Dasar keberadaanku, yang senantiasa mendasari aku,
Garis-Pembatas dari Khalikku, yang mendefinisikan aku.
Datanglah, Hikmat tersembunyi, datanglah bersama semua yang Kaubawa,
Datanglah kepadaku saat ini, terselubung sebagai segala.

Soneta merupakan bentuk puisi yang memperhatikan irama dan kesimetrisan bunyi. Perhatikan, misalnya, bagaimana "the light by which I see" (bait 2) diterjemahkan secara dinamis, "cahaya yang memungkinkan penglihatanku", agar memenuhi kesamaan rima dengan baris terakhir "yang menemukan aku". Begitu pula, verba "bersaksi" dipilih sebagai padanan "speak", agar serima (rhyming) dengan "mencari". Bukankah di sini tecermin situasi di mana kepatuhan pada bentuk itu membebaskan ekspresinya? Memang paradoks.

Mengenai ekspresi seorang seniman dan keterampilan mengeksekusi bentuk atau teknik, Guite menulis refleksinya tentang kebebasan yang berdasar pada ketaatan. Paradoks itu diperjelas ketika ia menulis (lengkap baca di sini): 

Saya membayangkan diri ini, hidup saya sendiri, bukan sebagai suatu bentuk ekspresi diri semau-maunya, melainkan sebagai puisi yang masih diucapkan oleh Pencipta saya. Dia telah memilih suatu bentuk tertentu untuk saya sebagai puisi. Dia telah menetapkan garis-garis pembatas bagi saya dan sejalan dengan garis-garis itu saya tidak hanya menjalankan daya cipta saya, tetapi juga lebih menjadi diri sendiri; saya memperoleh bentuk dan koherensi.
Guite dipengaruhi oleh William Blake (1757-1827) ketika ia menggunakan metafora "garis pembatas" (bounding line) -- langkah dasar proses kreatif seniman tersebut. Blake mengaktualisasi garis pembatas tidak dengan garis-garis lurus tetapi meliuk-liuk seperti nyala api atau aliran sungai. Garis pembatas yang tegas dan jelas membuat suatu gambar tidak cuma berkarakter tetapi hidup. Seni merepresentasikan dunia spiritual yang tidak kasatmata (baca di sini). Dalam O Sapientia, yang tidak kelihatan itu adalah personifikasi Hikmat. Jadi, sungguhkah keindahan itu semata-mata kenikmatan subyektif (in the eyes of beholder)? 

Sabtu, 04 Oktober 2025

Obituarium: Beristirahatlah dalam Damai, David!

Tulisan singkat ini pengingat bahwa pribadi yang pernah hadir sebagai guru menempati ruang khusus dalam hati seseorang seperti saya.

Dr. David Kwang-sun Suh (1931-2022) adalah dosen saya ketika menempuh pendidikan di Divinity School of Chung Chi College pada tahun 2012. Beliau mengajar sebagai visiting professor (dosen tamu) untuk dua mata kuliah: Asian Christian Theologies bersama Dr. Timothy Light, dan Jesus Christ in Asian Contexts.

Sebagai seorang teolog Minjung generasi pertama, David membantu saya memahami lebih baik latar belakang teologi Minjung. Teologi kontekstual Korea ini menguat pada tahun 1970an, dan berbicara tentang keberpihakan Allah pada Minjung, rakyat jelata yang tertindas. Teologi Minjung berkarakter kultural dan politis sebagai tanggapan terhadap kediktatoran militer Korea waktu itu.

Pengalaman panjang dan pahit David sendiri memberi sentuhan yang amat personal pada setiap sesi kuliah yang diberikannya. Beliau menjelaskan apa itu han yang dirasakan rakyat Korea: semacam kesenduan dan amarah yang tak terkatakan. Han seperti menangis tanpa air mata. Kisah hidupnya tentang kepahitan, dendam, tetapi juga pengampunan (sila baca di sini). Saya mendengar langsung pengalaman biografis David membentuk teologi yang diusungnya. Tidak dipungkiri bahwa teologi selalu membawa dimensi otobiografis. Hal ini mengingatkan saya pada pengalaman teolog-teolog seperti Bonhoeffer, Moltmann, dan lain-lain.

Untuk perkuliahan Jesus Christ in Asian Contexts, saya menulis refleksi mengenai teologi sesama manusia dari Kosuke Koyama. David memberi tanggapan positif, dan menyimpulkan, "[...] if you begin with some commonality with clear understanding [of] what you are talking about, a genuine dialogue can begin and reconciliation become possible." (Jika Anda mulai dengan kesamaan serta memahami jelas apa yang Anda bicarakan, dialog yang tulus dapat dimulai dan rekonsiliasi menjadi mungkin). Kata-katanya ringkas merangkum hal mendasar dalam setiap perjumpaan dengan pihak yang lain. Tugas berteologi terutama tecermin pada "clear understanding [of] what you are talking about". Saya mungkin membuat analisa berlebihan atas komentar beliau yang singkat, tetapi diksi "clear understanding" alih-alih correct atau right mencerminkan dialektika berteologi yang harus mendapat perhatian.

David memiliki pengalaman panjang di dunia pendidikan teologi di luar tugas mengajar. Antara lain, beliau pernah menjabat sebagai Vice President di United Board for Christian Higher Education in Asia. United Board berkantor di Hong Kong dan memayungi banyak institusi pendidikan tinggi Kristen di Asia, termasuk Indonesia. Beliau juga profesor kehormatan di Chinese University of Hong Kong. David juga dikenal aktif dan berperan dalam gerakan oikoumene YMCA. Tidak heran, refleksi dan tanggapan dari seseorang dengan karier dan pengalaman yang begitu panjang, tidak hanya berwawasan tetapi juga bijaksana.

Beliau pria Korea yang ramah dan humoris. Ketika tiba giliran saya untuk presentasi dalam kuliah Asian Christian Theologies, David yang pernah mengunjungi Yogyakarta, mengenakan kemeja batik. Dengan bangga beliau memutar badan bak peragawan sambil tersenyum lebar. Hal itu dilakukan untuk mendukung presentasi saya tentang teologi dalam konteks Indonesia. Dalam kelas yang lain, beliau menceritakan pengalaman lucu kekesalannya saat ada orang keliru mengenalinya, mengira dia Kosuke Koyama, teolog asal Jepang yang ternama itu. David juga berseloroh tentang posisinya sebagai pengajar tetap di Ewha Womans, yang adalah universitas untuk perempuan. Satu lagi, pendidikan tingginya ditempuh seluruhnya di Barat, dan Summa dari Thomas Aquinas adalah bacaan yang menurutnya bagus untuk membantu tidur.

Setelah berjuang melawan COVID-19, David meninggal dunia pada usia 92 tahun, pada tanggal 26 Februari 2022. Banyak orang yang pasti merasa kehilangan. Ingatan tentang David tetap tinggal bagi setiap orang yang pernah mengenal dan belajar dari beliau. Tulisan singkat ini bentuk hormat seorang murid kepada pendidik yang pernah memberi bentuk dalam perjalanan intelektual dan iman saya. Requiescat in pace.

https://unitedboard.org/united-board-remembers-dr-david-kwang-sun-suh/

Jumat, 03 Oktober 2025

Hosea 11:5: Kembali atau Tidak Kembali ke Mesir?







Bukankah mereka harus kembali ke tanah Mesir?
Biarlah Asyur menjadi raja mereka, sebab mereka menolak untuk bertobat. (TB 2)

Mereka harus kembali ke tanah Mesir,
dan Asyur akan menjadi raja mereka, sebab mereka menolak untuk bertobat.  (TB)

They shall return to the land of Egypt,
and Assyria shall be their king, because they have refused to return to me. (NRSV) 

They shall not return to the land of Egypt,
but Assyria shall be their king, because they have refused to return to me. (ESV)

No!
They return to the land of Egypt,
And Assyria is their king. Because they refuse to repent (NJPS 2017)

Penerjemahan merupakan "the art of failure" (seni kegagalan). Demikian pernyataan dari John Ciardi, penerjemah Inferno karya Dante (sedikit lebih banyak tentang ini, baca artikel ini). Tidak ada terjemahan yang bisa secara sempurna mewakili bahasa aslinya. Sering kali dalam bahasa sumbernya terdapat lapisan-lapisan makna. Penerjemah selalu berhadapan dengan pilihan. Ada terjemahan yang menangkap satu lapisan tertentu, terjemahan lain menghadirkan lapisan lainnya. Hosea 11:5 merupakan contoh menarik dalam penerjemahan.

Tentu saja, ayat ini perlu dibaca dalam konteks Hosea lebih luas. Secara khusus, gagasan "kembali ke tanah Mesir" adalah tema yang berulang (lihat 8:13; 9:3, 6). Dengan menerjemahkan 11:5 secara harfiah ("tidak kembali", mis. ESV; NKJV), ada yang terkesan janggal karena berlawanan dengan tema "kembali ke tanah Mesir" dan Israel yang tidak mau bertobat di ayat yang sama. Selanjutnya, di ayat 11, pasal yang sama, pada waktu pemulihan mereka akan datang "dari Mesir". Ada penafsir yang menduga ada kesalahan penyalinan. Misalnya, kata lo' ("tidak") sebenarnya low (dia) yang menjadi obyek kata kerja 'owkhiyl ("memberi [dia] makan") pada ayat sebelumnya (lih. apparatus BHS; bdk. dunêsomai autö(i), LXX). Memang lo' sebagai bentuk salah-salin untuk low tidak hanya muncul di sini saja (mis. Kel 21:8; Im 11:21; Yes 9:2; 63:9; Mzm 100:3; Ayb 13:15).

Namun, ada yang menilai tidak perlu ada dugaan seperti itu (lih. usulan The Hebrew Old Testament Text Project [HOTTP]; juga A Handbook on Hosea and Joel terbitan UBS). Ungkapan "kembali ke Mesir" yang muncul beberapa kali dalam kitab Hosea perlu dipahami sebagai kiasan. Kembali ke Mesir bisa berarti Israel harus takluk pada kekuatan bangsa lain manapun, termasuk Asyur. Pertanyaannya terkait ayat yang kita bahas: apakah harus dimengerti secara figuratif juga?

Jadi, penafsir dan penerjemah sebenarnya mendapat dua pilihan. (1) Menerjemahkan secara harfiah dengan menilai bahwa Israel memang tidak kembali ke negeri Mesir, melainkan tunduk kepada Asyur. Dalam hal ini, Mesir tidak dipahami secara figuratif. Menurut Francis Landy, di sinilah klimaks di mana Mesir tidak dapat diandalkan lagi karena sudah tidak ada lagi (hlm. 162). Israel tidak akan kembali ke Mesir, tetapi mereka kembali ke "Mesir" lain, yaitu Asyur. (2) Pilihan lainnya, yang banyak diikuti terjemahan (mis. NRSV; NET; NAB; TB 1), menyesuaikan ayat ini dengan tema besar "kembali ke Mesir" (simbol perbudakan). Menariknya, dalam bahasa Ibrani, partikel lo' ("tidak") mungkin saja dalam kasus tertentu, seperti di sini, dimaknai "pasti" (lihat catatan kaki ESV). Namun, lebih baik mempertahankan apa yang tersedia dalam teks itu dalam arti yang paling lazim atau wajar. NJB membuat terjemahan lebih bernuansa: "He will not have to go back to Egypt" (Ia tidak akan perlu kembali ke Mesir). Demikian juga, TB Edisi 2 yang baru terbit menyadari hal ini dan menerjemahkan 11:5 begini: "Bukankah mereka harus kembali ke tanah Mesir? Biarlah Asyur menjadi raja mereka, sebab mereka menolak untuk bertobat." Menjadikannya pertanyaan retoris juga telah dilakukan NIV: Will they not return to Egypt and will not Assyria rule over them [...]?). Lebih menarik lagi, NJPS (2017) yang dikerjakan oleh institusi umat Yahudi menerjemahkan lo' (tidak) sebagai seruan yang berdiri sendiri: No! They return to the land of Egypt [...].

Jadi, kedua opsi penerjemahan, antara kembali atau tidak kembali ke tanah Mesir, memang sepintas tampak bertentangan. Akan tetapi, keduanya sebenarnya sama saja secara makna: Israel harus kembali ke pembuangan seperti apa yang dahulu dialami mereka di Mesir. Namun, kali ini mereka tidak kembali ke Mesir, tetapi Asyur. Hal ini menjadi jelas, ketika pembaca melihatnya dalam dinamika tema "kembali ke Mesir" dalam kitab Hosea.

Terakhir, perlu catatan mengenai kedudukan terjemahan. Banyak orang secara tepat melihat pentingnya bahasa sumber (Ibrani, Aram, Yunani). Namun, ada pula yang menjadi lebih skeptis atau menolak terjemahan. Pernyataan Ciardi tentang terjemahan sebagai "seni kegagalan" mungkin terdengar menganggu. Dalam konteks Kekristenan, terjemahan sudah mendapat tempat khusus. Terjemahan Yunani dari kitab-kitab Ibrani (Yunani Lama atau "Septuaginta"), telah menjadi Kitab Suci bagi orang-orang Kristen pertama. Dua kenyataan ini, terjemahan sebagai "kegagalan" dan diakuinya terjemahan sebagai Kitab Suci, bisa didekati dengan memahami bahwa kebenaran dan ketepatan tidak diukur melalui keakurasian linguistik atau formal. Terjemahan merupakan upaya ambil bagian dalam tradisi suci yang menghormati teks bahasa sumber tetapi tidak membatasinya. Tradisi kitab suci sendiri sejak semula merupakan tradisi lintas bahasa.