Ciri sentral pandangan dunia imamat adalah keyakinan bahwa keteraturan dunia adalah keteraturan ciptaan, yang dibawakan oleh Yahweh. Sungguh, pada jantung teologi imam ada kepercayaan bahwa Yahweh menciptakan dunia yang bertatanan (teratur) dan bahwa pada jantung keteraturan ciptaan itu adalah keteraturan ritual.
Kisah penciptaan menurut sumber P (Imam) dalam Kejadian 1:1-2:4a memberikan ekspresi yang jelas bagi kepedulian untuk keteraturan atau keteraturan ini. Ia bisa dikarakterisasikan sebagai suatu proses di mana allah menciptakan atau membangun keteraturan bagi ciptaan.
Kepedulian akan keteraturan ini diungkapkan melalui pemakaian kata badal. Penciptaan digambarkan sebagian sebagai suatu perbuiatan memisahkan antara bermacam unsur dan ada hadir dalam karakterisasi ini suatu sistem penggolongan dunia. Perbuatan pemisahan ini secara jelas dicatat dalam kisah-kisah penciptaan pada hari 1 dan hari 2 -- (ayat 4, ayat 7, ayat 9)
Suatu unsur yang sentral daripada kerumitan teologis ini adalah ide bahwa Allah menciptakan dan mendirikan keteraturan itu melalui perkataan. Allah berfirman dan menciptakan keteraturan kosmos dalam Kej. 1:1 - 2:4a. Dengan cara yang sama, Allah berirman dan menciptakan keteraturan kultis Kemah Suci dalam Keluaran 25-31. Adalah perlu untuk memperluas konteks aksi penciptaan Allah hingga memasukkan masyarakat itu sendiri. Kemah Suci ada ditengah-tengah suku-suku Israel , batas-batas luar pemikiman suku membentuk batas kemah, sehingga kultus Kemah Suci dihadirkan dalam konteks organisasi sosial dua belas suku. Masyarakat Israel adalah keteraturan yang mapan yang memiliki, sebagai unsur pusat daripada keteraturan itu, Yahweh diam di tengah-tengah mereka dalam Bait suci, dan termasuk sebagai bagian dari keteraturan itu, aturan-aturan tertentu bagaimana orang harus hidup agar mempertahankan keteraturan penciptaan itu.
Pandangan dunia para penulis P (sumber Priester) memiliki tiga keteraturan penciptaan ini sebagai kerangka kerja: Kosmologis, kemasyarakatan dan kultis. Ketiganya diberi bentuk, diadakan dan diteguhkan oleh Firman Allah. Apa yang harus dilihat walaupun demikian adalah bahwa bermacam keteraturan ini bukannya tidak bergantung satu sama lain melainkan saling berhubungan. Kemah Suci di padang gurun adalah refleksi daripada keteraturan sosial yang secara bergantian adalah refleksi keteraturan kosmologis. Keteraturan sosial dan kultis adalah bagian daripada - merefleksikan dalam struktur mereka sendiri dan bergantian membantu menstrukturkan--keteraturan kosmologis. Keteraturan kosmologis merefleksikan suatu sistem identifikasi, keteraturan sosial merefleksikan arti dan nilai, sedangkan keteraturan kultis merefleksikan suatu sistem praksis.
Unsur konseptual yang mempersatukan ketiga keteraturan ini adalah bahwa unsur keteraturan melalui pemisahan. Keteraturan sosial dan kultis dicapai melalui pembedaan-pembedaan kategoris. Memang, tugas tanggung jawab Harun sebagi Imam adalah untuk 'memisahkan antara yang kudus dan yang haram dan antara yang najis dan tahir. Pemisahan kategori konseptual berfokus pada tiga daerah dalam gbahan ritual Imamat -- ruang, waktu dan status--- dan fungsi-fungsi ritual Imamat dalam konteks kategori-kategori ruang, waktu dan status, yang terdefinisi jelas dan terdemarkasi. Tiap-tiap kategori konseptual ini diberikan ekspresi yang konkret melalui citra dasar pemisahan. Masing-masing dikatakan 'terpisah' dan secara kategoris berbeda oleh para pemegang tradisi Imam.
di Israel keteraturan ciptaan --kosmis, sosial, dan kultis---terancam oleh dosa umat dan ketidakmurnian yang muncul dari dosa itu dan mencemarkan tempat kudus.
Kategori konseptual ruang sakral memainkan peran kunci dalam pemahaman Imamat tentang keteraturan, tentang arti, tentang berkat, tentang identitas kebangsaan. Penulis-penulisa Imam telah menempatkan konstruksi dan arti ruang sakral dalam konteks konstruksi dan arti keteraturan kosmis. Sebagimana Yahweh membangun keteraturan ciptaan dalam tujuh tindak Firman, begitulah Yahweh memberi perintah bagi pembangunan ruang sakral (suci) dalam tujuah firman. Musa membangun Kemah Suci dalam tujuh tindakan dan menahbiskan keimamatan dalam tujuh tindakan. Kultus ditempatkan dalam kosmos; mereka saling berhubungan. Keteraturan kultis adalah satu unsur keteraturan ciptaan.
Keteraturan dan Tipe-tipe Ritual
Ritus-ritus penerimaan adalah ritus yang dirancang untuk melewatkan seseorang atau komunitas dari satu status sosial, konseptual kepada status lainnya. Ritus demikian terjadi dalam konteks sosial dan memerlukan konteks sosial dengan peran-perannya dan institusi-institusi agar dapat berfungsi.
Ritual-Ritual dasar adalah ritual yang dirancang untuk membawakan suatu keadan, institusi, atau situasi tertentu. Ritual-ritual ini menghadirkan aksi dasar atau asal daripada sesuatu.
Ritual-Ritual Pemeliharaan adalah ritual yang dirancang untuk memelihara dan mempertahakan keteraturan yang sudah ada didirikan.
Ritual-Ritual Pemulihan adalah tipe ritual yang dominan dalam sisitem ritual imamat. Ritual-ritual ini dirancang untuk memulihkan keteraturan ciptaan ketika rusak, cacat atau putus.
Ruang, Waktu dan Status
Kategori-kategori spasial
Ini memainkan peranan penting dalam pelaksanaan ritual Imamat.
Kategori-Kategori Temporal
Kategori-Kategori Temporal menyediakan satu sarana dengan mana para pemegang tradisi imam memetakan dan melaksanakan suatu pengalaman yang berarti dari keteraturan ciptaan. Ritual-ritual tertentu yang diarahkan pada kepedulian untuk keteraturan, dilaksanakan pada saat-saat tertentu khusus dan karena situasi-situasi khusus.
Ritual Imam dan Teologi Imam
Ritual adalah satu sarana dengan mana masyarakat memerankan suatu dunia arti, aksi-aksi di dalam dan atas suatu dunia arti, memposisikan diri dalam sutu dunia arti, dan berefleksi pada sifat dan arti dunia itu. Ritual bukan secara sederhana suatu rangkaian aksi-aksi formal yang diadakan demi aksi-aksi. Ritual adalah satu sarana pembangunan dunia.
Dengan demikian bagi imam boleh dikatakan ritual adalah satu saranan dan ia nampak sebagai sarana utama, bagi refleksi teologis. Dalam ritual-ritual mereka berinteraksi dalam berbagai cara dengan keteraturan ciptaan ilahi. Interaksi ritual demikian berdasarkan pada refleksi dan arti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar Anda terhadap artikel situs ini